Beranda | Artikel
Penisbatan Wahabi kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
3 hari lalu

Penisbatan Wahabi kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Sabtu, 7 Rajab 1447 H / 27 Desember 2025 M.

Kajian Tentang Penisbatan Wahabi kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab

Para musuh tauhid kerap melontarkan celaan “Wahabi” sebagai penisbatan kepada Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullahu Ta’ala. Hal ini biasanya terjadi ketika seseorang mulai membahas masalah tauhid dan melarang perbuatan syirik, seperti peringatan terhadap tindakan meminta pertolongan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Padahal, larangan tersebut memiliki dasar yang sangat kuat dalam Al-Qur’an dan sunnah.

Seandainya mereka jujur dalam penisbatan tersebut, mestinya mereka menyebutnya “Muhammadi” karena merujuk pada nama depan beliau, yaitu Muhammad. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki gelar yang mereka berikan adalah “Wahabi”. Di balik celaan tersebut, justru terdapat kemuliaan karena nama tersebut merujuk kepada Al-Wahhab, yang merupakan salah satu nama Allah yang Maha Indah (Asmaul Husna).

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman mengenai sifat-Nya sebagai Maha Pemberi:

أَمْ عِندَهُمْ خَزَآئِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ ٱلْعَزِيزِ ٱلْوَهَّابِ

“Atau apakah mereka mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu Yang Mahaperkasa lagi Maha Pemberi?” (QS. Shad [38]: 9)

Jika orang-orang sufi menisbatkan diri kepada sekelompok orang yang memakai pakaian dari bulu domba (suf), maka kata Wahabi secara bahasa menisbatkan diri kepada Al-Wahhab. Tidak ada yang memberikan karunia dalam arti sesungguhnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, terutama karunia berupa keimanan, kemurnian tauhid, serta kemurnian dalam mengikuti (ittiba) sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Al-Wahhab adalah Allah yang menganugerahkan tauhid kepada seorang hamba. Ini merupakan sebaik-baik anugerah. Allah pula yang menguatkan hamba tersebut untuk berdakwah mengajak manusia kembali kepada jalan tauhid dan melarang perbuatan syirik.

Biografi Singkat Muhammad bin Abdul Wahab

Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullahu Ta’ala merupakan ulama besar yang digolongkan oleh sebagian ulama sebagai mujaddid (pembaharu) pada abad ke-12 Hijriah. Beliau dilahirkan di kota Uyainah, Najd, pada tahun 1115 Hijriah.

Beliau menunjukkan kecerdasan luar biasa dengan menghafal Al-Qur’an sebelum mencapai usia 10 tahun. Tumbuh di lingkungan keluarga berilmu, beliau memulai pendidikan di bawah bimbingan ayahnya sendiri dengan mempelajari fikih mazhab Imam Ahmad bin Hambal.

Selanjutnya, beliau memperdalam ilmu agama dengan membaca kitab-kitab hadits dan tafsir dari berbagai ulama di berbagai negeri. Perjalanan menuntut ilmunya meliputi wilayah Najd, Makkah, hingga Madinah Al-Munawwarah. Di kota Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersebut, beliau semakin mendalami dan memahami hakikat tauhid yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan sunnah.

Seseorang yang mempelajari dan menekuni Al-Qur’an serta sunnah akan mendapati bahwa mayoritas penjelasan dan seruan di dalam dalil-dalil tersebut adalah ajakan menuju tauhid. Sebaliknya, hal yang paling banyak diingkari adalah perbuatan syirik, terutama syirik dalam berdoa atau meminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mempelajari agama dari sumber yang murni akan membentuk semangat untuk membela tauhid dan mengingkari perbuatan syirik. Hal ini merupakan warisan dari para nabi dan para rasul ‘alaihimush shalatu was salam.

Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu taala memahami tauhid berdasarkan Al-Qur’an, sunah, dan dalil-dalil yang shahih. Kitab-kitab yang beliau tulis, seperti Kitabut Tauhid, memiliki metode yang sangat sistematis. Beliau hanya mencantumkan judul bab, kemudian membawakan ayat Al-Qur’an, hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta nukilan atsar dari para salaf.

Metode penulisan ini serupa dengan cara Imam Bukhari menyusun kitab shahihnya. Bahkan, terdapat ulama di India yang awalnya membenci dakwah beliau, namun ketika membaca Kitabut Tauhid tanpa mengetahui identitas penulisnya, mereka menyangka kitab tersebut adalah karya Imam Bukhari karena kemiripan metodologinya.

Beliau merasa prihatin terhadap kondisi di negerinya, Najd, serta daerah lain yang dikunjungi. Di sana, beliau menyaksikan berbagai perbuatan syirik, khurafat, bid’ah, serta pengkeramatan kuburan orang-orang yang dianggap wali. Fenomena ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang benar. Kesyirikan di akhir zaman terkadang tampak lebih nyata dan terang-terangan dibandingkan dengan masa Jahiliah.

Kondisi tersebut menimbulkan kerisauan mendalam pada diri beliau. Sebagai contoh, di Najd, beliau pernah mendengar kaum perempuan bertawasul kepada pohon kurma jantan dengan berkata:

“Wahai pohon kurma jantan, aku menginginkan seorang suami sebelum berakhirnya tahun ini.”

Tindakan tersebut merupakan bentuk tawasul yang sangat jauh dari bimbingan Islam.

Kesyirikan yang nyata terjadi di negeri Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, termasuk di wilayah Hijaz, yaitu di Makkah, Madinah, dan sekitarnya. Di sana, beliau menyaksikan pengagungan yang berlebihan terhadap kuburan para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum ajmain.

Seseorang cenderung melakukan hal tersebut ketika tidak mengenal tauhid. Kecenderungan hati manusia sering bermula dari pengagungan terhadap orang-orang saleh dengan anggapan bahwa mereka dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setan kemudian masuk melalui celah ini untuk menyesatkan manusia. Sebagaimana diterangkan dalam Kitabut Tauhid, awal terjadinya penyimpangan dan kesyirikan adalah pengagungan yang melampaui batas terhadap orang-orang shalih. Para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum ajmain sering kali dijadikan sasaran dalam hal ini ketika lokasi kuburan mereka diketahui.

Penyimpangan serupa juga terjadi dalam bentuk pengagungan terhadap ahlul bait (keluarga dan keturunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) serta kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Pengagungan yang bersifat ibadah tidak boleh ditujukan kepada siapa pun kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Saat menimba ilmu kepada para masyayikh, beliau menyaksikan langsung praktik kesyirikan tersebut. Di Kota Madinah, beliau mendengar orang-orang melakukan istighatsah—memohon pertolongan untuk menghilangkan kesulitan—kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling keras mengingkari perbuatan berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Praktik tersebut jelas menyelisihi Al-Qur’an dan hadits. Inti kandungan Al-Qur’an yang terdapat dalam Surah Al-Fatihah menegaskan hal ini:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah [1]: 5)

Meskipun pada awalnya beliau tidak berdaya untuk mengingkari kenyataan tersebut, atas pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau kemudian dapat bekerja sama dengan penguasa untuk menegakkan dakwah tauhid. Segala bentuk permohonan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bertentangan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu. Sebab jika kamu berbuat (demikian), sesungguhnya kamu dengan demikian termasuk orang-orang yang zalim (musyrik).” (QS. Yunus [10]: 106)

Kesyirikan dalam hal meminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perkara yang paling banyak dibantah di dalam Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan manusia merupakan makhluk yang lemah sehingga membutuhkan tempat bersandar dan meminta atas segala hajatnya. Seseorang yang tidak mengenal tauhid dan tidak memahami sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Sempurna akan mudah terjerumus ke dalam perbuatan syirik. Hanya orang-orang yang dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan selamat dari penyimpangan ini.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55933-penisbatan-wahabi-kepada-syaikh-muhammad-bin-abdul-wahab/